LAKUKAN EVALUASI, PKBM AL UMM BARABAI MENELAAH NILAI RAPORT PENDIDIKAN 2024

Barabai – Secara umum, Raport Pendidikan Tahun 2024 PKBM Al UMM Barabai berwarna hijau atau dengan kata lain bernilai baik. Namun demikian ada beberapa indikator yang nilainya mengalami penurunan. Untuk mengevaluasi hal tersebut dilaksanakan kegiatan In House Training (IHT) Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Penyusunan Asesmen Berbasis Data/ Menelaah Rapor Pendidikan 2024, di Aula PKBM Al Umm Barabai, (08/03/2024).
Sebagai informasi, Rapor Pendidikan merupakan indikator terpilih dari profil pendidikan yang merefleksikan prioritas Kemdikbudristek dan digunakan untuk menilai kinerja daerah dan satuan pendidikan. Kegiatan IHT ini diikuti oleh Pendidik dan Tenaga Kependidikan PKBM Al UMM Barabai, baik Paket A, B dan C serta dari TAUD SaQu Al Umm Barabai.
Sekretaris PKBM Al Umm Barabai, Novi Fitriany, S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan untuk menyamakan persepsi, meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kompetensi peserta yang berasal dari para pendidik dan tenaga kependidikan PKBM Al Umm Barabai, dalam menyusun asesmen berbasis data rapor pendidikan, diantaranya:

  1. Mengidentifikasi serta menelaah capaian rapor pendidikan dari hasil anbk tahun 2022 dan 2023
  2. Refleksi capaian rapor pendidikan tahun 2022, 2023 dan 2024
  3. Berbasis data rapor pendidikan, melakukan rencana tindak lanjut untuk melakukan perbaikan dan pembenahan pada pembelajaran
  4. Menyusun asesmen pembelajaran yang mengembangkan kemampuan literasi, numerasi dan kemampuan penalaran peserta didik
  5. Mengimplementasikan penyusunan asesmen melalui komunitas KomBel yang tertuang dalam modul ajar serta sesuai dengan capaian pembelajaran
    Penanggung jawab Paket A PKBM Al UMM Barabai, Abdul Ghani Majidi, S.Ag mengungkapkan bahwa salah satu hal yang menjadi penyebab turunnya nilai pada salah satu indikator adalah kurangnya pemahaman dari pada tutor, pendidik, tenaga kependidikan dan para peserta didik terhadap soal yang harus mereka jawab, baik itu dalam survey lingkungan belajar maupun dalam kegiatan ANBK.
    “Dari pengamatan, bisa dipastikan ketidaktepatan dalam menjawab diawali dari kurang tepatnya kami dan juga peserta didik dalam memahami pertanyaan. Oleh karenanya melalui kegiatan ini, akan terjadi pemahaman yang sama di antara kami, sehingga bisa menjelaskan sebaik mungkin kepada para peserta didik. Selain itu, pembiasaan untuk belajar menjawab perlu dilakukan agar kita tidak lagi bingung dalam memahami pertanyaan,” pungkas Ustadz Ghani, demikian dia biasa disapa. (ms-sitq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *